Cara Menghemat Penggunaan Kawat Bendrat di Proyek Tanpa Mengorbankan Kekuatan Struktur

Dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek konstruksi, kawat bendrat (binding wire) seringkali dianggap sebagai komponen “receh” jika dibandingkan dengan biaya semen atau besi beton. Namun, bagi kontraktor berpengalaman, kawat bendrat adalah salah satu penyumbang waste material (material terbuang) terbesar di lapangan jika tidak dikelola dengan benar.

Pemborosan kawat bendrat tidak hanya berdampak pada pembengkakan biaya tak terduga, tetapi juga menunjukkan manajemen lapangan yang kurang rapi. Tantangan terbesarnya adalah melakukan efisiensi tanpa mengurangi kualitas ikatan tulangan beton. Ikatan yang lemah dapat menyebabkan besi bergeser saat pengecoran, yang berisiko fatal pada kekuatan struktur jangka panjang.

(Baca juga: Panduan Lengkap Membaca Kode Besi Beton SNI (Contoh: BjTS 420B))

Mengapa Pemborosan Kawat Bendrat Sering Terjadi?

Sebelum masuk ke solusi, kita perlu memahami akar masalahnya. Di lapangan, kawat bendrat sering terbuang percuma karena beberapa faktor:

  1. Pemotongan yang Tidak Standar: Pekerja memotong kawat terlalu panjang dari kebutuhan aktual untuk satu ikatan. Sisa potongan yang terlalu pendek akhirnya dibuang.
  2. Teknik Ikat yang Berlebihan: Menggunakan ikatan ganda (double tie) di semua titik pertemuan, padahal tidak semua titik memerlukannya.
  3. Kawat Mudah Putus: Menggunakan kawat berkualitas rendah yang kaku (tidak annealed dengan baik), sehingga sering putus saat dipuntir dan harus mengganti dengan potongan baru.
  4. Penyimpanan Buruk: Kawat yang tercecer, terinjak-injak, atau berkarat parah sebelum digunakan.

Strategi 1: Optimalisasi Teknik Pengikatan Besi

Penghematan terbesar berasal dari penerapan teknik yang tepat di lapangan. Tidak semua persilangan besi harus diikat dengan metode yang sama borosnya.

Prioritaskan Titik Ikat Kritis

Standar umum di lapangan (dan sering diajarkan dalam pelatihan vokasi konstruksi) adalah mengikat setiap persilangan kedua (selang-seling) pada area pelat lantai yang luas. Namun, Anda wajib melakukan ikatan penuh dan kuat pada area kritis ini:

  • Area sambungan lewatan (overlap) besi.
  • Sudut-sudut pertemuan balok dan kolom.
  • Area di sekitar lubang (opening) pada pelat lantai.
  • Tulangan sengkang (begel) pertama dan terakhir pada kolom/balok.

Pada area tengah yang tidak menerima beban puntir tinggi saat pengecoran, ikatan selang-seling sudah cukup untuk menahan posisi besi.

Gunakan Teknik “Snap Tie” (Ikat Kupu-Kupu) untuk Kecepatan dan Efisiensi

Untuk persilangan besi standar (D10 ke bawah), teknik snap tie atau sering disebut ikat kupu-kupu adalah yang paling efisien bahan. Teknik ini hanya membutuhkan satu lilitan menyilang dan puntiran cepat.

Hindari menggunakan teknik saddle tie (ikatan pelana) atau double strand (dua kawat sekaligus) pada tulangan yang ringan, karena akan memakan material 2x lipat tanpa memberikan manfaat struktural tambahan yang signifikan pada area tersebut.

Strategi 2: Manajemen Material di Lapangan (Site Management)

Efisiensi dimulai sebelum kawat digunakan. Mandor atau pelaksana lapangan memegang peranan kunci di sini.

Standarisasi Ukuran Potongan

Ini adalah langkah paling praktis dan berdampak langsung. Jangan biarkan setiap tukang memotong kawat sendiri-sendiri dari gulungan besar saat sedang bekerja di atas rakitan besi.

Tugaskan satu pekerja khusus (biasanya kenek) untuk memotong kawat bendrat dalam jumlah besar sebelum pekerjaan pembesian dimulai.

  • Ukuran Ideal: Potongan sepanjang 15 cm – 20 cm biasanya sudah cukup untuk mengikat besi diameter 8mm hingga 16mm.
  • Potongan yang terlalu panjang (misal 30 cm) akan menyisakan ekor yang panjang setelah dipuntir. Ekor ini adalah sampah yang dibayar mahal.

Gunakan Alat Kerja yang Tepat

Pastikan pekerja menggunakan gegep (catut kawat) yang tajam dan ukurannya pas di tangan. Gegep yang tumpul memaksa pekerja menggunakan tenaga ekstra dan seringkali memotong kawat terlalu panjang agar lebih mudah ditarik.

Strategi 3: Memilih Kualitas Material yang Tepat

Membeli kawat bendrat termurah seringkali justru menjadi pilihan paling mahal di akhir proyek.

Pilihlah kawat bendrat yang telah melalui proses annealing (pemanasan) yang sempurna. Kawat jenis ini memiliki ciri-ciri:

  • Lunak (Pliable): Mudah ditekuk dan dipuntir dengan tangan kosong.
  • Kuat Tarik: Tidak mudah putus saat dikencangkan dengan gegep.

Kawat yang terlalu keras/kaku akan sering putus saat pekerja mencoba mengencangkan ikatan. Setiap kali putus, pekerja harus mengambil potongan kawat baru. Ini adalah bentuk pemborosan tersembunyi yang jarang disadari.

(Baca juga: Panduan Memilih Besi Ulir Beton yang Tepat)

Kesimpulan

Menghemat kawat bendrat bukanlah tentang mengurangi jumlah ikatan di bawah standar keamanan, melainkan tentang menghilangkan waste (pemborosan) melalui teknik yang lebih cerdas dan manajemen lapangan yang disiplin.

Dengan menerapkan standarisasi pemotongan kawat dan mengedukasi tukang mengenai area prioritas pengikatan, kontraktor dapat menghemat penggunaan material hingga 15-20% tanpa sedikitpun mengurangi kualitas struktur beton bertulang.

Kenalan dengan Utama Sukses Lestari

PT. Utama Sukses Lestari adalah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi besi dan baja yang berlokasi di Banten, Jawa Barat. Perusahaan ini bermula dari Toko Besi Kragilan Utama dan kini telah berkembang sebagai spesialis bahan bangunan, khususnya besi dan baja. Menyediakan berbagai produk besi, termasuk besi beton, kawat bendrat, dan material konstruksi lainnya, seperti WF dan CNP, yang mendukung proyek pembangunan di berbagai sektor.

Referensi

  • ACI 318 (American Concrete Institute) – Building Code Requirements for Structural Concrete. (Untuk prinsip dasar penempatan tulangan).
  • Pedoman Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Beton di Lapangan, Kementerian PUPR.
  • Studi Lapangan: Analisis Waste Material pada Proyek Konstruksi Gedung Bertingkat.

Anda juga mungkin menyukainya :

Scroll to Top